Sebuah Rumah yang Tak Lagi Ramah


Tentang Rumah

Rumah Tak Ramah

Rumah mana ya yang bisa kusebut rumah? Saat mengasihi sudah tak saling, saat ketenangan sudah tak pernah kudapatkan. Semua serba hitam. Tak ada dukung-mendukung. Yang kurasa hanya sendiri. Apa karena aku belum bekerja? Kerjaku memang jadi freelancer. Susah memang, semua yang kukerjakan seakan tak pernah bernilai. Aku memang nggak minta sebuah pengakuan. Tapi, setidaknya rasa ingin dihargai itu selalu ada. Saat mamaku dapat vonis terkena kanker payudara. Aku menangis tanpa henti. Mendoakan sampai sekarang mamaku sembuh. 

Tiap pagi, aku berusaha untuk men-treats-nya dengan segala hal yang aku punya. Tapi rasanya, rasa sayang beliau hanya tercurah untuk keempat kakakku. Sayangku hanya dari bapak. Bapak yang selalu denger keluh-kesahku. Aku selalu bangun pagi, masak, dan semua pekerjaan rumah semua aku. Aku juga ikut iuran bayar listrik tiap bulan, aku bayar kuota untuk bapak, aku bayar BPJS sendiri. Tapi masih dianggap sebelah mata.

Apakah rumah?

Dua kakak aku di rumah? Selalu mengatasnamakan ibadahlah, cape kerja, agar mereka nggak bantu-bantu rumah. Beberapa kali aku hampir putus asa. Hampir mengakhiri semua ini. Aku hampir kehilangan semua yang kumiliki. Semua yang kusebut rumah, tempat aku pulang tak senyaman dulu. Kadang, hatiku menginginkan mereka, tapi ego lain, aku ingin pergi, jauh. Kembali setelah aku punya segalanya. Tapi? Aku berat. Aku berat hati meninggalkan Bapak dan Mamaku hanya tinggal dengan dua kakakku yang tak pernah peduli. Hanya leyeh-leyeh. Makan saja kalau nggak ada aku, Bapakku yang masak. Aku masih sayang Bapakku. Kadang kalau lagi sakit aku, aku selalu menangis. Minta panjangkan umur orangtuaku. Aku, aku paling bungsu. Hidupku bersama kedua orangtuaku belum selama hidup kakak-kakakku dengan orangtua.

Tulisan ini, menjadi saksi prosesku untuk terus tabah, tetap sayang, tetap hadir untuk Bapak dan Mama. Semoga aku terus kuat menjalani hari-hari ke depan. Hari-hari aku harus menahan air mata agar tak tumpah. Hari-hari aku harus menahan keinginan untuk pergi. Hari-hari aku harus tetap berbakti kepada orangtuaku. Semoga Allah berkenan mengabulkan setiap doa-doa yang langit setiap saat.


regards,

Aku yang sedang patah hati.

Posting Komentar untuk "Sebuah Rumah yang Tak Lagi Ramah"